KOMPUTER DAN SUMBERDAYA PERIKANAN
Komputer
Komputer
adalah alat yang dipakai untuk mengolah data menurut prosedur yang
telah dirumuskan. Kata komputer
semula dipergunakan untuk menggambarkan orang yang perkerjaannya melakukan
perhitungan aritmatika,
dengan atau tanpa alat bantu, tetapi arti kata ini kemudian dipindahkan kepada
mesin itu sendiri.
Sumber
daya perikanan
Perikanan
adalah kegiatan manusia yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan
sumberdaya hayati perairan. Sumberdaya hayati perairan tidak dibatasi secara
tegas dan pada umumnya mencakup ikan, amfibi dan berbagai avertebrata penghuni
perairan dan wilayah yang berdekatan, serta lingkungannya. Di Indonesia,
menurut UU RI no. 9/1985 dan UU RI no. 31/2004, kegiatan yang termasuk dalam
perikanan dimulai dari praproduksi, produksi, pengolahan sampai dengan
pemasaran, yang dilaksanakan dalam suatu sistem bisnis perikanan. Dengan
demikian, perikanan dapat dianggap merupakan usaha agribisnis.
Umumnya,
perikanan dimaksudkan untuk kepentingan penyediaan pangan bagi manusia. Selain
itu, tujuan lain dari perikanan meliputi olahraga, rekreasi (pemancingan ikan),
dan mungkin juga untuk tujuan membuat perhiasan atau mengambil minyak ikan.
Dianugerahi
laut yang begitu luas dengan berbagai sumber daya ikan di dalamnya. Potensi
sumber daya perikanan tersebut tersebar di seluruh wilayah laut nusantara.
Sumber daya alam lainnya yang terkandung di dalam laut Indonesia adalah
terdapat berbagai jenis bahan mineral, yakni minyak bumi dan gas. Seluruh
potensi kelautan ini perlu dikelola dan dikembangkan bagi kepentingan
pembangunan nasional secara optimal dan berkesinambungan. Pengelolaan sumber
daya laut tersebut dilakukan dengan menggunakan teknologi sederhana atau
teknologi modern ramah lingkungan.
Saat ini, kondisi laut dan sumberdaya laut di Indonesia semakin hari semakin memburuk. Praktek-praktek penangkapan ikan yang illegal dan merusak semakin hari semakin tidak terkendali. Ribuan kapal-kapal penangkap ikan asing dengan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan beroperasi di wilayah-wilayah yang seharusnya dibatasi hanya untuk kepentingan nelayan lokal dan tradisional. Maraknya kegiatan ilegal dengan teknologi yang buruk tersebut mengakibatkan kerusakan habitat biota laut negeri ini. Selama ini, teknologi yang diterapkan Indonesia adalah yang termurah dari sudut ekonomi, menggunakan sumberdaya alam maupun sumber daya manusia yang murah walaupun dari sudut ekologi bisa saja bernilai mahal. Teknologi tradisional sederhana yang lebih banyak digunakan oleh pelaut nusantara dewasa ini seharusnya telah diperbaharui sesuai dengan perkembangan zaman. Perubahan zaman juga berpengaruh pada perubahan lingkungan dan ekologi. Sehingga, juga diperlukan perubahan dalam penggunaan teknologi pengelolaan sumber daya laut dengan menggunakan teknologi yang lebih modern tetapi ramah lingkungan.
Secara umum, teknologi ramah lingkungan adalah teknologi yang hemat sumberdaya lingkungan (meliputi bahan baku material, energi dan ruang), dan karena itu juga sedikit mengeluarkan limbah (baik padat, cair, gas, kebisingan maupun radiasi) dan rendah risko menimbulkan bencana. Di laut dapat dikembangkan kapal modern yang lebih ramah lingkungan, yakni yang menggunakan mesin dan sekaligus layar mekanis. Layar ini dapat dikembangkan otomatis jika arah dan kecepatan angin menguntungkan. Penggunaan energi angin dapat menghemat bahan bakar hingga 50%. Teknologi energi dan transportasi yang ramah lingkungan termasuk yang saat ini paling dilindungi oleh industri negara maju dan karenanya paling mahal. Namun, teknologi modern yang ramah lingkungan ini sangat diperlukan dalam pengelolaan sumber daya laut meskipun mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.
Pemerintah saat ini sedang menghadapi dilema dalam pengelolaan sumber daya laut. Selama ini, pemerintah memang terlihat menomorduakan pengelolaan SDL yang sampai sekarang belum terlihat optimal. Upaya pemerintah lebih banyak terkuras untuk pengelolaan sumber daya yang ada di daratan dan mengutamakan sektor pertanian, perdagangan dan industri dibandingkan potensi kelautan. Padahal, kekayaan laut yang dimiliki Indonesia sangat besar dan potensial dan jika dikelola secara serius diperkirakan akan memberikan sumbangan devisa yang sangat besar bagi Indonesia. Bukan saatnya lagi memikirkan nilai ekonomis dalam penggunaan teknologi untuk laut. Saatnya untuk mengutamakan kualitas dan mutu dalam pengelolaan sumber daya laut yang lebih memberikan banyak keuntungan bagi negeri ini dan menciptakan laut yang sehat bagi alam sendiri
Usaha
perikanan adalah semua usaha perorangan atau badan hukum untuk menangkap atau
membudidayakan (usaha penetasan, pembibitan, pembesaran) ikan, termasuk
kegiatan menyimpan, mendinginkan atau mengawetkan ikan dengan tujuan untuk
menciptakan nilai tambah ekonomi bagi pelaku usaha (komersial/bisnis).
Sumber daya alam dapat dibedakan berdasarkan sifat, potensi, dan jenisnya.
a. Berdasarkan sifat
Menurut sifatnya, sumber daya alam
dapat dibagi 3, yaitu sebagai berikut :
1. Sumber daya alam yang terbarukan (renewable), misalnya: hewan,
2. Sumber daya alam yang tidak terbarukan (nonrenewable), misalnya:
3. Sumber daya alam yang tidak habis, misalnya, udara, matahari,
Tantangan
dan Permasalahan
Berbagai
potensi yang dimiliki Indonesia yang sangat besar tersebut sanggupkah
pemerintah bersama rakyat mengelolanya menjadi suatu kekuatan besar. Mungkin
itu adalah pertanyaan menggelitik yang seharusnya dapat kita jawab. Masalah
sanggup atu tidak itu sebenarnya tergantung yang mengelola.
Beberapa
tantangan yang muncul ditengah potensi perikanan yang dimiliki Indonesia
seperti adanya Illegal Fishing, harga Ikan yang rendah, rendahnya mutu hasil
perikanan. Menurut pandangan penulis Illegal Fishing merupakan masalah laten
yang dihadapai bangsa ini. setiap tahun, sumberdaya kita di bombardir Negara
lain. Mereka dengan sengaja mencari ikan diperairan Indonesia. Dengan
menggunakan peralatan yang lengkap dan kapal yang besar mereka menjarah
sumberdaya alam diperairan Indonesia. Jika ini terus dibiarkan, bukan tidak
mungkin sumberdaya yang dimiliki Indonesia akan semakin berkurang. Ditambah
lagi beberapa periaran di Indonesia yang telah mengalami over Fishing. Beberapa
perairan di Indonesia yang tengah berada pada lampu merah atau over fishing
seperti laut Jawa, Samudra Hindia, laut Sumatra, dll. Penyebab Illegal fishing
sangat kompleks mulai dari luas peraian Indonesia yang besar, keamanan yang
lemah dan nelayan kecil yang tak mampu menjangkau sumberdaya ikan di laut
bebas. Luas peraian yang besar ditambah adanya pengamanan yang lemah dari
pemerintah menjadi jalan masuk terjadinya illegal fishing. Pengamanan yang
lemah ini dikarenakan armada yang dimiliki Indonesia dalam menjaga keamanan
pereiaran sangat minim. Selain itu rendahnya jangkauan melayan diperairan lepas
menjadikan sumberdaya yang dimiliki Indonesia tidak bisa termanfaatkan
makasimal. Pada tahun 2010, dari 590.352 kapal ikan Indonesia, hanya 6.370 unit
kapal (kurang dari 2%) yang tergolong modern (kapal motor berukuran di atas 30
GT). Sedangakan kapal motor yang beroperasi sebanyak 155.992 unit (26%).
Selebihnya, 238.430 unit (40%) berupa perahu motor tempel (outboard motor) dan
189.630 unit (32%) berupa perahu tanpa motor yang hanya menggunakan layar dan
dayung (KKP, 2010). Berdasarkan data tersebut maka sumberdaya yang dimiliki
Indonesia tak dapat dimanfaatkan dan dilkelola dengan maksimal oleh para
nelayan. Dan yang sangat fatal, malah Negara lain yang memanfaatkannya.
Adanya
rantai perekonomian yang masih di kuasai dan dikendalikan oleh tengkulak dan
para juragan membuat harga ikan tidak stabil dan bahkan kadang sangat rendah.
Rendahnya harga ini, ditengarai permainan tengkulak yang telah mengakar sejak
turun-temurun. Ditambah lagi tidak adanya peran pemerintah dalam menstandarkan
harga untuk melindungi nelayan maupun pembudidaya menjadikan nelayan menjadi
objek yang selalu dirugikan. Walaupun sekarang di Tempat Pelelangan Ikan (TPI)
telah diterapkan penjualan hasil tangkapan dengan cara pelelangan namun belum
memberikan dampak yang signifikan. Ikan-ikan yang berkualitas rendah dihargai
seadanya. Sehingga para nelayan menjadi merugi karena hasil penjualan tidak
cukup untuk menutup biaya penangkapan (produksi).
Kebijakan
kementerian kelautan dan perikanan (KKP) yang baru yaitu Industrialisasi
perikanan menjadikan dilema dikalangan para pelaku usaha kecil (nelayan dan
pembudidaya). Kebijakan tersebut menegaskan bahwasanya adanya kegatan perikanan
dari hulu (nelayan dan pembudidaya) ke hilir (pengolahan dan pemasaran) yang
merata. Kebijakan Industrialisasi Perikanan ini memaksa adanya suplai bahan
baku yang kontinyu dari hulu untuk kegiatan pengolahan. Sumberdaya alam di laut
yang tidak menenu dan minmnya armada perikanan yang dapat menjangkau untuk
eksploitasi laut lepas mengakibatkan suplai bahan baku tidak stabil. Ditambah
lagi banyaknya perairan di Indonesia yang mengalami over fishing. Maka dari itu
pemerintah melakukan kebijakan import bahan baku dari negara-negara lain. Total
import perikanan ditahun 2009 mencapai 331.893 ton , sedangkan ditahun
2010 mencapai 369.282 ton. Yang sangat miris dari 75 jenis ikan yang diimport
40 jenisnya ada di Indonesia. Namun yang terjadi dilapangan sering dijumpai
ikan yang diimport masuk kepasar tradisional. Sehingga harga ikan dari para
nelayan maupun pembudidaya akan jatuh. Selain itu terjadinya beberapa kasus
yang terjadi dimana ikan yang diimport mengandung bahan yang berbahaya seperti
formalin.
Perikanan
kedepan
Pengendalaian
illegal fishing oleh kapal asing harus segera ditangani. Jika tidak akan
menjadi masalah yang pelik. Pemerintah sudah selayaknya meningkatkan keamanan
daerah perairan. Dengan meningkatkan armada laut untuk menjaga keamana perairan
Indonesia akan mampu mengurangi adanya Illegal Fishing. Selain itu pemerintah
bersama masyarakat (nelayan) diharapkan dapat bekerjasama dalam mengahalau
setiap tindakan yang menjurus kepada kerugian negara oleh negara asing. Dengan
adanya kerjasama tersebut maka diharapkan sumberdaya yang dimiliki Indonesia
dapat dinikmati oleh bangsa Indonesia sendiri. Masih rendahnya armada laut yang
beroperasi dilaut lepas harus ditingkatkan. Hal ini mengingat sumberdaya
didaerah pesisir semakin berkurang. Tak ada pilihan lain kecuali meningkatkan
armada untuk menjangkau sumberdaya zona ekonomi eksklusif (ZEE). Adanya program
KKP yaitu bantuan seribu kapal diharapkan akan mampu memberikan solusi dalam
peningkatan produksi. Bantuan berupa kapal dengan kapasitas 30 GT tersebut
sangat membantu nelayan dalam melakukan kegiatan penangkapan.
Masih
adanya system monopoli yang dilakukan oleh para juragan dan tengkulak harus
segera diatasi. Pemerintah sebaiknya membuat regulasi yang menguntungkan
masyarakat nelayan maupun pembudidaya. Selain itu, sebaiknya pemerintah
melindungi harga ikan dipasaran seperti harga gabah dalam pertanian. Dengan
melindungi harga ikan, diharapkan para nelayan dan pembudidaya dapat menikmati
hasil yang telah dilakukan. Sehingga kesejahteraan para nelayan dan pembudidaya
dapat dicapai. Setelah regulasi dan pengendalian harga, sebaiknya dilakukan
Pengawasan dan operasi pasar untuk mengurangi adanya oknum yang nakal dalam
kegiatan perikanan.
Import
ikan yang terjadi harus diminimalisir dengan meningkatkan produksi bahan baku.
Jika berbagai upaya yang tertera diatas telah dilakukan dengan baik, maka
import ikan otomatis akan dapat diminimalisir. Namun yang penting, pemerintah
melakukan pengawasan yang ketat terhadap import ikan agar nantinya tidak jatuh
dipasar tradisional. Selain itu, pembentukan regulasi yang ketat dalam kegiatan
import akan mampu menekan kegiatan import ikan. Sebenarnya jika pemerintah
memanfaatkan dan memaksiamlakan sumber daya yang ada di Indonesia timur
(Maluku,Sulawesi) maka import ikan akan dapat ditekan. Dengan dalih biaya
operesional yang mahal, maka pemerintah lebih senang melakukan import daripada
memanfaatkan sumber daya sendiri. Karena dengan melakukan import harganya jauh
lebih murah jika mendapatkan dari nelayan sendiri karena jarak antara Indonesia
timur dengan pusat pruduksi sangat jauh dan membutuhkan biaya yang cukup besar.
Sehingga kebijkan importlah menjadi solusi dini dalam kegiatan industrialisasi
Kurangnya
pemanfaatan teknologi dalam eksploitasi sumber daya ikan2 tersebut menyebabkan
tidak optimumnya pemanfaatan sumber daya ikan yang ada. Pemanfaatan suatu
teknologi seperti Sistem Informasi Geografis untuk perikanan di harapkan dapat
mampu memberikan suatu gambaran dan suatu tampilan spasial tentang
sumber-sumber atau spot-spot perikanan di wilayah indonesia yaitu dengan
menggabungkan faktor-faktor lingkungan yang mendukung tempat hidup dan berkumpulnya
berbagai jenis ikan tersebut sehingga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan
hasil penangkapan ikan (Kusuma, 2008).
Informasi geografis merupakan kanampakan permukaan bumi, maka informasi
tersebut mengandung unsur posisi geografis, hubungan keruangan, atribut, dan
waktu. Posisi geografis dapat dinyatakan dalam sistem koordinat lintang dan
bujur atau sistem UTM. Atribut menjelaskan informasi apa (what), seperti hutan,
kota, dan sebagainya. Hubungan keruangan biasanya disimpan dalam basis data.
Dan waktu merupakan konponen informasi geografis yang selalu berubah. Adapun
beberapa aplikasi yang berkaitan dengan SIG umumnya terlibat dalam studi
mengenai lingkungan. Lingkungan ini dimaksud adalah lingkungan geografi dari
area studi dan kegaitan yang berkaitan di dalamnya (Nugroho, 2003).
Sistem informasi geografi merupakan suatu interaksi antara data-data atribut
dan data spasial yang bereferensi geografi. Keunggulan SIG ini dapat dijadikan
masukan berharga bagi para nelayan atau pengusaha perikanan untuk mengetahuai
lokasi-lokasi penangkapan ikan. Pertanyaan yang sering di lontarkan nelayan
adalah dimana lokasi penangkapan ikan yang baik? dan kapan waktunya? Dengan SIG
perikanan pertanyaan2 ini bisa di jawab, dengan bantuan data SST, klorofil, PAR
(Photosintesis Actibe Radiation) dll bulanan dalam beberapa tahun yang
diperoleh dari PJ dan dianalisis dengan SIG akan memberikan tampilan secara
geografis kencendrungan seberan dari faktor2 lingkungan yang disukai oleh ikan
yang akhirnya memberikan gambaran daerah perkiraan penangkapan ikan (Kusuma,
2008).
Sistem
Informasi Geografis (SIG)
SIG perikanan lebih sering bermain dengan bentuk data raster. Data2 SST,
klorofil dll tersebut merupakan suatu data dari citra satelit yang berbentuk
raster. Data raster mempunyai kelemahan dalam proses penyimpaan dan
kemampuannya berinteraksi dengan data atribut. Data bentuk raster membutuhkan
tempat penyimpanan yang sangat besar sehingga boros hardisk, data raster juga
merupakan data angka per pixel sehingga tidak bisa di gabung dengan data tabel,
keadaan ini terjadi apabila data raster tersebut bersifat degradasi. Untuk bisa
menggabungkannya dengan data tabel harus di reklasifikasi terlebih dahulu,
sehingga membentuk ID2. Interkasi data atribut dengan data spasial sangat
berguna pada lokasi pendaratan ikan, dimana pelaporan secara berkala tentang
hasil penagkapan ikan akan memberikan informasi wilayah penghasil ikan terbesar
dan informasi tentang pemanfaatan potensi perikanan yang ada disekitar lokasi
pendaratan kapal (Mangatur, 2010).
Banyak sekali sekarang orang2 yang memanfaatkan GIS. seperti yang sudah di
tulis, salah satu perangkat lunak dari GIS adalah ArcView. sebenarnya masih
banyak lagi perangkat2 lunak GIS seperti MapInfo, ArcGIS, Autocad MAP dll. tapi
untuk saat ini, sebagai dasar dalam pemanfaatan Sistem Informasi Geografi lebih
lanjut, banyak yang memanfaatkan ArcView (Setyadi, 2006).
Pengembangan SIG untuk kelautan mempunyai dua kendala umum, pertama bahwa dasar-dasar
perkembangan SIG adalah untuk keperluan analisis keruangan pada suatu lahan
(land-based sciences), kedua analisis SIG untuk laut lebih banyak menggunakan
3D, sedangkan SIG sendiri masih kurang mampu mengaplikasikan 3D secara baik
pada daerah2 yg luas (Kusuma, 2004).
2.2 Aplikasi SIG Di Bidang Kelauta
Menurut Setyadi (2006) sebagaimana halnya perkembangan aplikasi SIG untuk kelautan
dan perikanan di dunia yang cukup lambat sama halnya di Indonesia. Banyak
faktor yang menghambat Sistem
Informasi Geografi Kelautan ITK-IPB- JLG perkembangan SIG dalam sektor
perikanan dan kelautan di Indonesia diantaranya, keterbatasan sumberdaya
manusia, perangkat keras dan lunak serta minimnya ketersediaan data spasial
kelautan di Indonesia. Aplikasi SIG berlajan sangat lamban berkembang di sektor
perikanan dan kelautan, hal ini disebabkan kompleksitas proses yang terjadi di
laut. Aplikasi SIG untuk perikanan dan kelautan mulai pertengahan 87 dan
dapat dikelompokkan untuk
tujuan:
1. Site selection atau pilihan untuk budidaya laut
Hal ini merupakan awal untuk menggunakan GIS dalam bidang perikanan. Hal ini
umumnya dilakukan di ruang skala kecil, namun sebenarnya dapat digunakan dalam
skala besar. Pemilihan lokasi ini menjadi penting karena semakin banyaknya
hambatan yang dihadapi dalam budidaya laut dan payau, misalnya masalah penyakit
ikan secara massal di beberapa negara seperti Thailand,Sri Lanka, Indonesia dan
banyak penyakit wabah lainnya yang dapat menyebabkan masalah dalam perikanan
budidaya.
2. Aplikasi SIG untuk menganalisis
lokasi yang cocok untuk distribusi ikan berdasarkan parameter lingkungan
Berdasarkan parameter - parameter lingkungan seperti suhu perairan, kesuburan
perairan dan fenomena / proses yang terjadi seperti upwelling,thermal fronts.
3. Modelling pergerakan dan aktivitas ikan
Numerik ke model SIG untuk mensimulasikan atau memeramalkan berbagai proses.
Contohnya termasuk paper yang telah dipublikasi.
4. Analisa dan usaha perikanan tangkap
Manajer Perikanan akan tertarik dimana usaha perikanan terkonsentrasi; dimana
jumlah ikan yang tertangkap banyak; apa hubungan antara menangkap dan usaha,
dll, dan banyak hal menarik yang berhubungan dengan usaha perikanan tangkap
dapat dianalisis dengan SIG.
5. Membangun database perikanan Regional dan Nasional
Walaupun tidak secara langsung dengan GIS aplikasi untuk manajemen perikanan
dalam dilakukan, jelas bahwa tanpa masukan data besar maka aplikasi GIS untuk
perikanan dan kelautan tidak dapat berfungsi. Maka di beberapa daerah
utama perikanan yang
besar upaya membangun data database, metadata set telah dilakukan.
Menurut Zainuddin (2006), yang menyatakan bahwa dalam kegiatan penangkapan ikan
di laut, pertanyaan klasik yang sering dilontarkan nelayan antara lain dimana
ikan di laut berada dan kapan bisa ditangkap dalam jumlah yang berlimpah.
Meskipun sulit mencari jawabannya, pertanyaan penting ini perlu dicari
solusinya. Hal ini antara lain karena usaha penangkapan dengan mencari daerah
habitat ikan yang tidak menentu akan mempunyai konsekuensi yang besar yaitu
memerlukan biaya BBM yang besar, waktu dan tenaga nelayan. Dengan mengetahui
area dimana ikan bisa tertangkap dalam jumlah yang besar tentu saja akan menghemat
biaya operasi penangkapan, waktu dan tenaga. Salah satu alternatif yang
menawarkan solusi terbaik adalah mengkombinasikan kemampuan SIG dan
penginderaan jauh (inderaja) kelautan. Dengan teknologi inderaja faktor-faktor
lingkungan laut yang mempengaruhi distribusi, migrasi, kelimpahan ikan dapat
diperoleh secara berkala, cepat dan dengan cakupan area yang luas. Faktor
lingkungan tersebut antara lain suhu permukaan laut (SST), tingkat konsenterasi
klorofil-a, perbedaan tinggi permukaan laut, arah dan kecepatan arus dan
tingkat produktivitas primer. Ikan dengan mobilitasnya yang tinggi akan lebih
mudah dilacak disutu area melalui teknologi ini karena ikan cenderung berkumpul
pada kondisi lingkungan tertentu seperti adanya peristiwa upwelling.
Kesimpulan
1.
SIG merupakan pengelolaan data geografi yang didasarkan pada kerja komputer
(mesin).
2.
Sistem Informasi Geografis bekerja berdasarkan
integrasi komponen, yaitu: Hardware, Software, Data, Manusia, dan Metode.
3.
Penyajian SIG dengan komputer lebih menguntungkan, karena mudah dan lebih cepat
diolah. Pengumpulan data dan penyimpanannya hemat serta ringkas (pada disket),
mudah diulang dan diubah kalau diperlukan, dan mudah ditransformasikan.
4.
Sistem Informasi Geografis dapat diartikan sebagai :
”suatu komponen yang terdiri dari perangkat keras, perangkat lunak, data
geografis dan sumberdaya manusia yang bekerja bersama secara efektif untuk
menangkap, menyimpan, memperbaiki, memperbaharui, mengelola, memanipulasi, mengintegrasikan,
menganalisa, dan menampilkan data dalam suatu informasi berbasis geografis”
5.
Dalam dunia perikanan dan kelautan diperlukannya SIG untuk mencari keberadaan
ikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar